Abstract
Tulisan ini mengkaji pengelolaan arsip seni pertunjukan melalui praktik dokumentasi di Salihara Arts Center, Indonesia. Tujuannya adalah mengevaluasi sejauh mana praktik tersebut mencerminkan prinsip Record Continuum Model (RCM) serta menawarkan pendekatan pengarsipan yang lebih kontekstual dan partisipatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus, melibatkan informan-informan kunci yang menangani dokumentasi dan kebijakan arsip. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis secara tematik berdasarkan empat dimensi Record Continuum Model: penciptaan, penangkapan, pengorganisasian, dan penggunaan kembali arsip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak secara eksplisit merujuk pada RCM, praktik dokumentasi di Salihara bersifat dinamis, lintas fungsi, dan terbuka terhadap reinterpretasi. Dokumentasi berfungsi tidak hanya sebagai alat administratif, tetapi juga sebagai memori kelembagaan dan sumber daya kreatif. Penelitian ini menegaskan bahwa Record Continuum Model menawarkan perspektif yang lebih kontekstual dan partisipatif dalam memahami pelestarian arsip seni pertunjukan, serta dapat menjadi pelengkap bagi model siklus hidup dalam membangun sistem arsip seni yang berkelanjutan dan berakar pada realitas praksis di lapangan.