Abstract
Pulau Gebe di Maluku Utara merupakan salah satu wilayah prospektif dengan potensi endapan nikel laterit yang tinggi. Penelitian ini menganalisis perbandingan metode estimasi Ordinary Kriging (OK) dan Direct Sequential Simulation (DSS) dalam memodelkan sumber daya nikel laterit di Pulau Gebe, Maluku Utara. Data ketebalan zona limonit, saprolit, dan badrock dari 267 titik bor dianalisis menggunakan software SGeMS untuk menghasilkan model blok 3D. Hasil menunjukkan bahwa OK cenderung menghasilkan model yang lebih smoothing, sementara DSS lebih merepresentasikan variabilitas lokal dengan nilai ekstrem. Volume estimasi untuk ketiga zona (limonit, saprolit, badrock) sama antara OK dan DSS, yaitu masing-masing 4.363.200 bcm, 4.050.000 bcm, dan 4.365.000 bcm. Namun, analisis cross validation menunjukkan DSS lebih akurat dengan nilai korelasi linear lebih tinggi (0,74–0,81) dibandingkan OK (0,30–0,67). Simpulannya, DSS lebih efektif dalam mempertahankan karakteristik data asli dan mengurangi ketidakpastian estimasi. Penelitian ini merekomendasikan DSS untuk estimasi sumber daya nikel laterit yang lebih andal.