THE MEANING AND TEACHING OF “BUDI PEKERTI” IN THE POETRY OF KEKEAN BY F. AZIZ MANNA: SEMIOTIC STUDIES OF RIFFATERRE

Kodrat Eko Putro Setiawan(1*), Andayani Andayani(2), Retno Winarni(3),

(1) 
(2) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
(3) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
(*) Corresponding Author




Abstract

Poetry can be used as a medium internalization precept of “budi pekerti” (manner). The theory of semiotic Riffaterre can be used in understand the meaning and precepts of “budi pekerti” mind contained in poetry Kekean work F. Aziz Manna. Research methodology this is descriptive qualitative. The result of this research suggests that indirectness expression by replacing meaning in the form of metaphors and similes and the deflection the meaning of ambiguity. Reading a heuristic useful to clarify the meaning of language. Reading hermeneutic in poetry Kekean remembrance people is in this world for permits god, therefore attitude “tawaduk” should be owned by each individual. Matrix poetry Kekean is an attitude “tawaduk” that should be owned by each individual.  The model in Kekean poetry is “hanya kepala dan torso. tubuhku bulat. togog. Lenganku buntung”, “Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. The varians in the Kekean poem is “Leherku terlilit tali panjang; berjuang dalam gerak melingkar; Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. The teaching of “budi pekerti” that are contained in the poetry Kekean among others: believe in the existence of God; have a sense of self-worth; developing work ethos and learning; have a sense of responsibility; and able to control themselves.

Keyword: Kekean poetry, budi pekerti, semiotik Riffaterre

 

MAKNA DAN AJARAN BUDI PEKERTI DALAM PUISI KEKEAN KARYA F. AZIZ MANNA: KAJIAN SEMIOTIK RIFFATERRE

Abstrak

Puisi dapat digunakan sebagai media internalisasi ajaran budi pekerti. Teori Semiotik Riffaterre dapat digunakan dalam memahami makna dan ajaran budi pekerti yang terkandung dalam puisi Kekean karya F. Aziz Manna. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa ketidaklangsungan ekspresi berupa penggantian arti dalam bentuk metafora dan simile dan penyimpangan arti berupa ambiguitas. Pembacaan heuristik berguna untuk memperjelas arti secara kebahasaan. Pembacaan hermeneutik dalam puisi Kekean mengandung makna manusia ada di dunia ini atas izin Allah, oleh sebab itu sikap tawaduk harus dimiliki oleh setiap individu. Matriks puisi Kekean adalah sikap tawadhu yang harus dimiliki oleh setiap individu. Model dalam puisi Kekean adalah “hanya kepala dan torso. tubuhku bulat. togog. Lenganku buntung”, “Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. Varian dalam puisi Kekean adalah  “Leherku terlilit tali panjang; berjuang dalam gerak melingkar; Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. Ajaran budi pekerti yang terkandung dalam puisi Kekean antara lain: meyakini adanya Tuhan; memiliki rasa menghargai diri sendiri; mengembangkan etos kerja dan belajar; memiliki rasa tanggungjawab; dan mampu mengendalikan diri.

Kata kunci: puisi Kekean, budi pekerti, semiotik Riffaterre


Keywords

puisi Kekean, budi pekerti, semiotik Riffaterre

References

Agustina, Syahrul, R. & Yasnur, A. (2016). Muatan kearifan lokal dalam cerpen mutakhir karya cerpenis Minangkabau. Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora. XV(1) 14 -31.

Al-Qur’an dan Terjemahannya (1983/1984). Departemen Agama RI. Jakarta : PT. Syaamil Cipta Media.

Al-Syaibani, O. M. A. (1979). Falsafah Pendidikan Islam. Penerj. H. Langgulung: Bulan Bintang.

Asri, Y., Zulfadli, & Ismail, M. (2016). Pendegradasian Kemanusiaan dalam Novel-novel Pengarang Etnis Minangkabau. Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora. XIV (2), 216-225.

Baldick, C. (2001). The Concise Oxford Dictionery of Literary Term. Oxford: Oxford Paperback Reference.

Balitbang-Puskur. (2001). Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Budi Pekerti untuk Sekolah Menengah Atas, Buram ke-6 Juli. Jakarta: Depdiknas.

Cobley, P. & Jansz, L. (2002). Mengenal Semiotika for Beginners. Bandung: Mizan.

Daulay, R. I. (2014). Nilai-nilai Edukatif dalam Lirik Nyanyian Onang-onang Pada Acara Pernikahan Suku Batak Angkola Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Komposisi, XIV (2), 148-165.

Kurniawan, S. (2013). Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Implementasinya Secara Terpadu di Lingkungan Keluarga, Sekolah, Perguruan Tinggi, & Masyarakat. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.

Kirk, J. & Miller, M. (1986). Reliability and Validity in Qualitative Research. Baverly Hills: Sage Publication.

Moeleong. (2017). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nurgiyantoro, B. (2014). Stilistika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ratna, K. N. (2014). Peranan Karya Sastra, Seni, dan Budaya dalam Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Riffaterre, M. (1978). Semiotic of Poetry. Indiana University Press: Bloomington and London.

Rokhmansyah, A. (2014). Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal terhadap Ilmu Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tafsir, A. (2009). Pendidikan Budi Pekerti. Bandung: Maestro.

Taum, Y. (2007). Semiotik Riffaterre dalam “Bulan Ruwah” Subagio Sastrawardoyo. Sintesis, V (1), 70-87.

Waluyo, H. J. (2006). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Zuriah, N. (2008). Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: PT Bumi Aksara.


Full Text: PDF

DOI: 10.24036/humanus.v16i2.8034
10.24036/humanus.v16i2.8034

Article Metrics

Abstract View : 86 times
PDF : 49 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2017 Humanus

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.