Abstract


Implementasi pembelajaran bermakna dan inklusif dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pasca Program Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPG Daljab) masih menghadapi kesenjangan antara kebijakan dan praktik di lapangan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman, tantangan, dan aspirasi guru PAUD lulusan PPG Daljab dalam mengimplementasikan pembelajaran bermakna dan inklusif di konteks lokal. Penelitian menggunakan pendekatan konstruktivis grounded theory dengan pengumpulan data melalui diskusi kelompok terfokus terhadap tujuh guru PAUD di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi guru dalam PPG lebih didorong oleh motivasi ekstrinsik, terutama sertifikasi profesional, sementara dorongan transformasi pedagogis bersifat sekunder. Guru menghadapi hambatan struktural dan kultural, termasuk keterbatasan fasilitas, resistensi institusional, serta kontradiksi kebijakan, yang membatasi implementasi pembelajaran bermakna dan inklusif. Meski demikian, guru mengembangkan strategi adaptif melalui praktik tersembunyi dan jaringan informal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat kesenjangan signifikan antara retorika profesionalisme dalam kebijakan PPG dan realitas praktik guru, sehingga diperlukan redefinisi profesionalisme guru yang berbasis praktik, pemberdayaan kolektif, dan dukungan kelembagaan yang kontekstual untuk mewujudkan pembelajaran bermakna dan inklusif secara berkelanjutan.