Submissions

Online Submissions

Already have a Username/Password for Jurnal Riset Psikologi?
Go to Login

Need a Username/Password?
Go to Registration

Registration and login are required to submit items online and to check the status of current submissions.

 

Author Guidelines

PERSEPSI TERHADAP KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN PADA REMAJA PECANDU

GAME ONLINE

[C1] [C2] 

Sri Wahyuni, Niken Hartati, Prima Aulia[C3] 

Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan dan Konseling

Fakultas Ilmu pendidikan, Universitas Negeri Padang

e-mail: sriewahyunidz@gmail.com

[C4] 

Abstrac:[C5]  Perception of father involvement parenting on adolescent online game addicts. This study aimed to know perceptions of father involvement in parenting adolescent online game addicts in Bukittinggi city. The method used is a combination of methods (mixed methods), namely the use of quantitative methods for primary research data and qualitative approach to completed. This study used a sample of 70 adolescents addicted to online games Bukittinggi city. This study used data analysis descriptive statistics and strengthened by a focus group discussion on a group of subjects with the results of positive and negative perceptions. From research conducted showed perceptions of father involvement in parenting adolescent online game addicts in Bukittinggi city is positive.[C6] 

 

Keywords: Perception, the involvement of fathers in parenting, adolescent, online   

                  gaming  addicts.

[C7] 

Abstrak: Persepsi terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada remaja pecandu game online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada remaja pecandu game online di kota Bukittinggi. Metode yang digunakan adalah metode kombinasi (mix methods) yaitu penggunaan metode kuantitatif untuk data penelitian utama dan  pendekatan kualitatif untuk melengkapinya. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 70 orang remaja pecandu game online di kota Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan analisis data statistik deskriptif dan diperkuat dengan focus group discussion pada kelompok subjek dengan hasil persepsi positif dan negatif. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil persepsi terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada remaja pecandu game online di kota Bukittinggi adalah positif.

 

Kata kunci: Persepsi, keterlibatan ayah dalam pengasuhan, remaja, pecandu game 

                    online.[C8] [C9] 

 

 

PENDAHULUAN[C10] 


Seiring dengan perkembangan teknologi juga terciptanya game online dan banyaknya peminat game online menjadikan bisnis game online telah berkembang dengan pesat. Hal ini tercermin dari semakin menjamurnya pusat-pusat permainan (game center) di kota besar maupun kota kecil yang menyediakan berbagai jenis game online, dengan biaya sewa yang relatif terjangkau, sehingga para penikmat game (gamers) semakin termanjakan karena kebutuhan mereka akan game semakin terpenuhi, mereka menghabiskan waktunya berjam-jam duduk di layar komputer dan didepan smartphone hanya untuk bermain game online.

Sejalan dengan hasil penelitian Andriani dan rekan-rekannya (2011) pada 42 orang subjek murid sekolah dasar berusia 6-12 tahun,  yang menyatakan bahwa sebanyak 65,91 % responden memilih bermain game online dengan sistem pembayaran paket perjam dengan alasan lebih murah jika mereka menyewa dengan jangka waktu yang lebih lama, sisanya memilih sistem pembayaran  personal atau dalam hitungan perjam sehingga tidak ada harga khusus. Semakin murah biaya penyewaan maka semakin mudah anak menyewa game online.

Beragamnya jenis game online dan biaya sewa yang relatif terjangkau, membuat para pemain game tertarik untuk bermain game online. Pemain game online tersebut pun tidak mengenal usia dan jenis kelamin. Sebanyak 64,5 % remaja laki-laki, dan dan 47,85 % remaja perempuan usia 12-22 tahun yang bermain game online menyatakan bahwa  mereka kecanduan terhadap game online. Selain itu, sebanyak 25,3 % remaja laki-laki, dan 19,25 % remaja perempuan usia 12-22 tahun yang bermain game online mencoba untuk berhenti main namun tidak berhasil (Yee, 2006).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, internet game banyak diminati oleh remaja dan dewasa. Saat ini, 67% remaja di Amerika serikat bermain internet game secara online, sedangkan pengguna internet remaja di Indonesia memiliki angka yang lebih besar lagi, yaitu lebih kurang 83% remaja Indonesia adalah pengguna internet harian (Yee dalam Loton, 2007).

Kecanduan bermain game online pada anak salah satunya disebabkan oleh kurangnya interaksi antara orang tua dengan anak, sehingga mereka mengalihkan perhatian mereka untuk bermain game online, Griffiths dan Chappel (2004) menyatakan bahwa sebagian pemain game online menghabiskan waktu secara berlebihan dalam melakukan permainan. Waktu yang dihabiskan oleh para pemain ini adalah waktu penting yang harus mereka habiskan untuk kegiatan yang telah terjadwal, seperti waktu untuk istirahat, waktu untuk bekerja, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk sekolah.

Hasil penelitian Stone (2008) mengung­kapkan bahwa peran ayah memiliki kontri­busi yang penting dalam perkembangan anak.  Hasil penelitian Miller & Moore (dalam Susanto, 2013) mengemukakan keterlibatan ayah dalam menerapkan disiplin yang cukup tinggi akan mengurangi kecenderungan anak untuk berperilaku marah, ban­del, berperilaku menyimpang terutama pada masa sekolahnya. Selain itu keterlibatan ayah juga akan mengembangkan kemampuan anak untuk berempati, bersikap penuh perhatian, serta berhubungan sosial dengan lebih baik.

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan menurut Allen dan Daly (2007), terlihat dari waktu yang dihabiskan ayah bersama anak, termasuk waktu ayah merawat fisik anaknya, kemudian dilihat dari kualitas hubungan ayah dengan anak dimana anak akan mengembangkan kelekatan yang aman dan dekat dengan ayah, dan pelaksanaan peran ayah kepada anak.

Penelitian Hidayati, Kaloeti & Karyono (2011) mengenai waktu yang diluangkan ayah untuk anaknya, dari 100 angket yang disebarkan hanya 34%  ayah yang dapat meluangkan waktu selama 6 jam bersama anaknya, data ini didapatkan berdasarkan self report yang tertulis di dalam angket dan secara kualitatif tidak mengungkap lebih jauh mengenai pembicaraan dan aktifitas yang dilakukan.

Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa tidak semua ayah dapat selalu ada pada tahap perkembangan anak. Tidak adanya figur ayah dapat dipahami secara fisik maupun emosional. Ketiadaan figur ayah biasanya terjadi karena perceraian ayah dan ibu, ayah yang senang bekerja keras atau berada di kantor serta berada di jalan untuk jangka waktu yang lama. Tidak adanya figur ayah secara emosional dimaksudkan bahwa, ayah bersikap dingin dan memberi jarak pada anaknya atau hanya memberikan perhatian pada anak tapi tidak berhubungan dengan anak pada tingkat yang lebih dalam  (Poulter dalam Kristiana, Widodo, & Syarifah, 2012).

Perubahan sosial, ekonomi, serta budaya memberikan pengaruh pada masyarakat dalam mempersepsi peran serta figur ayah dalam pengasuhan dan perkembangan anak. Saat ini, figur ayah dapat berperan dalam berbagai hal diantaranya pengasuhan, partisipasi dalam aktivitas dan masalah pendidikan. Kebijakan yang dulu lebih berfokus pada ibu, mulai memberikan kesempatan serta ruang bagi figur ayah untuk mengekspresikan diri dalam proses parenting (pengasuhan). Figur ayah menurut teori klasik dari Pearson (dalam Lamb, 1981) dipandang secara instrumental (pencari nafkah) sedangkan sosok ibu diterjemahkan secara ekspresif (mencurahkan kasih sayang).

Pergeseran waktu telah menciptakan evolusi peran ayah dimana muncul tuntutan agar ayah lebih melibatkan diri pada pengasuhan anak, hal ini  yang mendasari peneliti mengangkat judul penelitian ini dengan “Persepsi terhadap Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Remaja Pecandu Game Online di Kota Bukittinggi”.

 

METODE[C11] [C12] 

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kombinasi (mixed method). Menurut pendapat Sugiyono (2013) menyatakan bahwa metode penelitian kombinasi (mixed methods) adalah suatu metode penelitian yang menggabungkan antara metode kuantitatif dengan metode kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel dan objektif.

Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah triangulation mixed method designs yaitu desain untuk memperoleh data yang berbeda tetapi saling melengkapi (complementary) dalam meneliti masalah penelitian dengan topik yang sama, data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. Melalui data transformation model peneliti melakukan pengumpulan dan analisis data kuantitatif serta kualitatif secara terpisah, selanjutnya mentransformasikan dari jenis data yang satu dengan jenis data yang lain. Hal ini akan saling melengkapi yaitu apakah data kuantitatif melengkapi untuk menghasilkan temuan kualitatif atau sebaliknya data kualitatif melengkapi temuan kuantitatif (Creswell, 2003).

Pendekatan kuantitatif  dalam penelitian ini, menggunakan skala Likert  yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekolompok orang tentang fenomena sosial, kemudian dilengkapi dengan pendekatan kualitatif melengkapi (complementary) dalam meneliti yang dilakukan dengan cara focus group discussion (FGD) yaitu sebuah teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk memperoleh data dari suatu kelompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada masalah tertentu (Bungin, 2008).

Penelitian ini mengungkapkan persepsi keterlibatan ayah dalam pengasuhan (father involvement) pada anak pecandu game online melalui eksplorasi terhadap 3 aspek keterlibatan ayah dalam pengasuhan menurut Allen & Dally (2007), yaitu waktu yang dihabiskan bersama anak, kualitas hubungan ayah dengan anak, dan pelaksanaan peran ayah.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja yang bermain game online di warnet kota Bukittinggi. Adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang karakteristiknya sudah ditentukan dan diketahui lebih dulu berdasarkan ciri dan sifat populasinya (Winarsunu, 2002). Kriteria sampel penelitian ini adalah remaja berusia 11-22 tahun, frekuensi bermain game lebih dari tiga kali dalam satu minggu dan setiap kali bermain sampai dengan 3 atau 4 jam sehari (Yee, 2006) dan masih memiliki ayah.

Dalam penelitian ini analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2013)

Data yang telah didapatkan secara kuantitatif melalui kuesioner, selanjutnya untuk memperkuat dan mengecek validitas data hasil kuesioner dilakukan dengan menggunakan metode kualitatatif berupa Focus Group Discussion (FGD).

Untuk penelitian ini, peneliti menggunakan batasan usia remaja menurut Santrock (2003), yaitu masa remaja dimulai sekitar usia 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada sekitar usia 18 hingga 22 tahun, karena batasan usia tersebut terjadi perubahan biologis, kognitif dan sosioemosional pada remaja yang menentukan perkembangan selanjutnya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN[C13] 

Hasil[C14] 

Mean empirik keterlibatan ayah dalam pengasuhan lebih besar dari mean hipotetiknya (μe = 136,01 > μh = 112,5 ). Hal ini berarti bahwa secara umum keterlibatan ayah dalam pengasuhan lebih tinggi daripada populasi pada umumnya.

Rerata empirik aspek waktu yang dihabiskan ayah bersama anak lebih besar dari rerata hipotetiknya (μe =50,85 >  μh= 42,5). Rerata empirik aspek kualitas hubungan ayah dan anak lebih besar dari rerata hipotetiknya (μe =58,5 >  μh= 47,5) dan rerata empirik aspek pelaksanaan peran ayah lebih besar dari rerata hipotetiknya (μe =25,98 >  μh= 22,5).

          Dari kategori skala keterlibatan ayah dalam pengasuhan, didapatkan 65 orang subjek (93%) berada pada kategorisasi positif, dan sebanyak 5 orang (7%) berada pada kategorisasi negatif. Kategorisasi subjek berdasarkan aspek yang dihabiskan ayah bersama anak, 2 subjek (3%) berada pada kategori rendah, 33 subjek (47%) berada pada kategori sedang, dan 35 subjek (50%) berada pada kategori tinggi. Pada aspek kualitas hubungan ayah dan anak, tidak ada subjek (0%) yang termasuk dalam kategori rendah, 28 subjek (48%) berada pada kategori sedang, dan 42 subjek (60%) berada pada kategori tinggi, sedangkan pada aspek pelaksanaan peran ayah, juga tidak ada subjek (0%) berada pada kategori rendah, 47 subjek (67%) berada pada kategori sedang dan 23 subjek (33%) berada pada kategori tinggi.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa subjek penelitian (N=70) memiliki keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada kategori tinggi pada aspek waktu yang dihabiskan ayah bersama anak yakni sebanyak 35 orang (50%). Pada aspek kualitas hubungan ayah dan anak juga termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 42 orang (60%) dan pada aspek pelaksanaan peran ayah berada pada kategori sedang yaitu sebanyak 47 orang (67%).

Setelah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) pada 5 orang subjek yang tergabung dalam kategori hasil persepsi positif dan negatif, didapatkan informasi mengenai berbagai hal terkait dengan keterlibatan ayah dalam pengasuhan, diantaranya, dari kontrol dan disiplin, ayah mengatakan untuk  jangan bermain game online, dan menyuruh mengejar prestasi, menyuruh ganti seragam saat pulang sekolah, mendisiplinkan subjek bangun pagi karena sering terlambat bangun, menyuruh subjek langsung pulang kerumah setelah pulang sekolah, dan ayah meminta untuk mengurangi waktu bermain game online.

Dilihat dari keberadaan ayah bersama anak dan frekuensi bertemu, ditemukan bahwa ayah jarang dirumah karena ayah menjadi supir mobil ke luar kota, subjek yang lain menyatakan, bertemu ayah sekali seminggu, dan ada juga yang mengatakan bertemu ayah setiap hari, tapi hanya bertemu pada malam hari karena ayah bekerja.

Interaksi dan waktu yang  yang dihabiskan ayah bersama anak, terlihat dari kegiatan yang dilakukan bersama seperti, membeli baju dan membeli sepatu saat bersama ayah, sering bercanda dengan ayah,  berbelanja kebutuhan sekolah, curhat kepada ayah saat dimarahi ibu, menonton televisi, dan jalan-jalan keliling kota Bukittinggi.

 Dilihat dari Pelaksanaan peran,  ayah berperan memberi semangat  dan motivasi untuk rajin belajar, ayah menasehati agar rajin sekolah, saat  ada masalah dengan teman ayah memberi motivasi dan solusi, ayah mendukung cita-cita dan  menyerahkan pemiihan cita-cita kepada subjek, ayah menanyakan kegiatan sekolah dan hasilnya, ayah memenuhi kebutuhan saat subjek meminta membeli peralatan sekolah, ayah cukup menafkahi keluarga dan anaknya bisa lancar sekolah.

Kualitas hubungan dan perasaan anak kepada ayah terlihat saat subjek mengatakan merasa nyaman dengan ayah, karena ayah memberi kehangatan dan kasih saying, memiliki hubungan yang dekat dengan ayah dan selalu pamitan ketika akan  selain itu, ayah juga  memberikan kasih sayang dan peduli terhadap  masalah serta mengarahkan dalam mencapai cita-cita.

Berdasarkan hasil FGD, persepsi terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan  adalah positif, karena ayah  sangat berperan dalam keluarga dan bisa menafkahi anak. Ayah memenuhi kebutuhan, termasuk kebutuhan sekolah,  subjek mengatakan ayah bertanggung jawab dan tidak membeda-bedakan anaknya.

 

Pembahasan[C15] 

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa subjek penelitian secara umum memiliki tingkat persepsi terhadap keterlibatan ayah yang cenderung positif. Tingkat persepsi terhadap keterlibatan ayah secara umum berada pada kategori tinggi, terutama pada aspek waktu yang dihabiskan ayah bersama anak  dan kualitas hubungan ayah dan anak yang lebih tinggi. Hal ini membuktikan bahwa persepsi remaja terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada remaja pecandu game online di kota Bukittinggi adalah positif.

Berdasarkan hasil penelitian Usmarni (2013) bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak pada etnis Minang rata-rata berada pada kategori sedang dan tinggi, hal ini menunjukkan bahwa ayah-ayah yang berada di Minang cukup terlibat dalam pengasuhan anaknya. Setiap budaya memiliki keyakinan dan kebiasaan dalam pengasuhan. Sehingga ini akan berdampak pada bagaimana perilaku ayah dalam melakukan pengasuhan.

Menurut Allen dan Daly (2007), konsep keterlibatan ayah dalam pengasuhan (father involvement) lebih dari sekedar melakukan interaksi yang positif dengan anak-anak mereka, tetapi juga memperhatikan perkembangan anak-anak, terlihat dekat dan nyaman, hubungan ayah dan anak yang kaya, dan dapat memahami serta menerima anak-anak mereka.

Pengasuhan dengan ciri-ciri tersebut melibatkan kemampuan untuk memahami kondisi dan kebutuhan anak, kemampuan untuk memilih respon yang paling tepat baik secara emosional, afektif maupun instrumental. Selain itu, keterlibatan ayah dalam pengasuhan menurut Allen dan Daly (2007) terlihat dari waktu yang dihabiskan ayah bersama anak, termasuk waktu ayah merawat fisik anaknya, kemudian dilihat dari kualitas hubungan ayah dengan anak dimana anak akan mengembangkan kelekatan yang aman dan dekat dengan ayah, serta pelaksanaan peran ayah kepada anak.

Berdasarkan hasil FGD bentuk keterlibatan ayah ini terlihat dari kedekatan subjek dengan ayah melalui kegiatan seperti bercanda dengan ayah, shoping merupakan kegiatan yang dilakukan bersama ayah, membeli baju, membeli sepatu, menonton TV, dan jalan-jalan keliling Bukittinggi.

Menurut Allen dan Dally (2007) dilihat dari aspek keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada aspek kualitas hubungan ayah dan anak, ayah diklasifikasikan sebagai ayah yang terlibat jika anak mereka telah mengembangkan kelekatan yang aman dan kuat pada sang ayah, dalam hal ini subjek merasa merasa nyaman dengan ayah, karena ayah memberi kehangatan dan kasih sayang, memiliki hubungan yang dekat dengan ayah dan selalu pamitan ketika akan pergi, ayah memberikan kasih sayang dan peduli terhadap  masalah serta mengarahkan dalam mencapai cita-cita.

Dilihat dari aspek pelaksanaan peran ayah menurut Allen dan Dally (2007), kemampuan ayah untuk menjadi orangtua yang otoritatif (melakukan kontrol secara tepat, bertanggung jawab terhadap disiplin yang diterapkan, memonitor aktivitas anak), tingkat dimana ayah memfasilitasi dan memberi perhatian pada kebutuhan anak, dan jumlah dukungan yang diberikan kepada anak termasuk yang berhubungan dengan aktivitas sekolah. Hal ini terlihat dari hasil FGD, dimana ayah memenuhi kebutuhan sekolah, ayah memenuhi kebutuhan saat subjek meminta membeli peralatan sekolah dan baju, ayah memenuhi kebutuhan saat subjek meminta membeli sepatu, ayah cukup menafkahi keluarga dan anaknya bisa lancar sekolah.

Hal yang sering didiskusikan bersama ayah yaitu tentang sekolah dan olahraga. Ayah sering menanyakan kegiatan sekolah, dan menasehati subjek untuk tidak bolos sekolah, dan main game terlalu lama, selain itu juga ayah sering memberi saran untuk mengarahkan subjek berhasil dan mewujudkan cita-citanya.

Ayah yang terlibat dalam suatu hubungan akan mencurahkan perhatian dan pikirannya pada remaja, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lamb (Andayani dan Koentjoro, 2003) ayah akan mencurahkan perhatian pada perkembangan remaja sehingga ada kegiatan perencanaan, pengambilan keputusan, dan mengorganisasikan. Menurut Montemayor dan Brownlee (dalam Hosley & Montemayor, 1997) remaja lebih menikmati dan lebih puas saat terlibat dalam aktivitas dengan ayah daripada dengan ibu, terciptanya hubungan yang positif inilah yang membuat remaja akan mempersepsikan ayah secara positif pula.

Persepsi terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan yang didapatkan dari FGD pada subjek ditemukan bahwa, mereka menyatakan nafkah yang ayah berikan cukup karena bisa untuk membiayai sekolah, persepsi terhadap ayah  positif karena ayah sangat berperan dalam keluarga dan bisa menafkahi anak, ayah memenuhi kebutuhan, bertanggung jawab dan tidak membeda-bedakan anaknya.

Bermain game online merupakan bentuk permainan yang sudah dimainkan subjek sejak SD, berdasarkan hasil focus group discussion yang dilakukan pada kelompok subjek disimpulkan bahwa mereka menyenangi bermain game online berawal karena ikut-ikutan teman, menganggap game online sebagai hobi, awalnya melihat orang bermain game online, kemudian akhirnya ikut kecanduan, game online dianggap asyik, serta memiliki ciri khas tersendiri dibanding permainan lainnya. Selain itu, mereka memilih datang ke warnet untuk bertemu dan bermain dengan teman sebaya.

 

SIMPULAN DAN SARAN[C16] 

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai persepsi terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada remaja pecandu game online di kota Bukittingi, maka dapat diambil kesimpulan bahwa, secara umum persepsi terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada remaja pecandu game online di kota Bukittinggi yaitu 93% berada pada persepsi positif dan 7% pada persepsi negatif.  Secara umum kecanduan bermain game online bukan disebabkan karena tidak adanya keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada remaja.

 

Saran

                        Adapun saran penelitian ini bagi peneliti selanjutnya adalah hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi dan masukan tentang persepsi remaja terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan, selain itu juga hendaknya menggunakan metode pengumpulan data yang dapat menggali data lebih dalam mengenai bagaimana keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada remaja dengan mempertimbangkan sebab-sebab lain yang mempengaruhi persepsi remaja terhadap keterlibatan ayah seperti lingkungan, budaya, pola asuh orangtua, atau nilai sosial yang berlaku dilingkungan remaja tersebut.

            Bagi remaja, diharapkan mampu mempertahankan interaksi bersama ayah dengan melakukan kegiatan bersama, seperti saling berbagi cerita, berdiskusi, dan mengerjakan pekerjaan bersama sehingga dapat tercipta persepsi positif terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

            Bagi ayah, ayah diharapkan dapat melaksanaan peran dan tanggung jawab sebagai pencari nafkah sehingga dapat memenuhi kebutuhan anaknya, dan memberi rasa  aman, penilaian positif mengenai peran ayah membuat remaja akan mempersepsikan ayah secara positif.


 

DAFTAR RUJUKAN[C17] 


Andayani, B., & Koentjoro. (2003). Psikologi keluarga: peran ayah menuju coparenting. Surabaya: Citra Media.

 

Allen, S., & Daly, K. (2007). The effects of  father involvement: an updated   research summaryof the evidence. University of Guelph: FIRA-CURA

 

Andriani, I., Sulistyawati, N. F., Puruhita, R. D., Lee, Y. F. X., & Navli, T. M. (2011). Gambaran kecenderungan agresivitas dalam pemilihan game online pada anak. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Satra Arsitektur & Sipil). Depok: Universitas Gunadharma.

 

Bungin, B. (2008). Metodologi penelitian kualitatatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 

Creswell, J. W. (2003). Research designs: qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. California:   SAGE.

 

Griffiths, M. D., & Chappel, D. (2004). Online computer gaming: a comparison of adolescent and adult gamers. Journal of Adolescent, 27, 87-96.

 

Hidayati, F., Kaloeti, D., & Karyono.   (2011). Peran ayah dalam pengasuhan  anak. Jurnal  Psikologi Undip, 9(1).

 

Hosley, C. A., & Montemayor, R. (1997). Fathers and adolescents. Dalam M. E. Lamb  (Penyunt.), The role of the father in child development, (3rd ed.). Canada: John Wiley & Sons.

 

Kristiana, Widodo, & Syarifah. (2012). Hubungan antara persepsi terhadap    keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan kematangan emosi pada remaja di SMA Negeri “X” (Skripsi tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. Semarang.

 

Lamb, M. E. (1981). The role in child development 2nd ed. Canada: John Willey & Sons Inc.

 

Loton, D. (2007). Problem video game playing, self esteem and social skills: an online study (Thesis Unpublished). Victoria University. Australia.

 

Santrock, J. W. (2003). Perkembangan masa hidup. Edisi kelima. Alih bahasa oleh Juda Damanik & Achmad Chusairi. Jakarta: Erlangga.

 

Sugiyono. (2013). Metode penelitian kombinasi (mixed methods). Bandung:  Alfabeta.

 

Susanto, M. D. (2013). Keterlibatan ayah dalam pengasuhan, kemampuan coping  dan resiliensi remaja. Jurnal Sains dan Teknologi, 101-113.

 

Stone, K. D. (2008). The forgotten parent: the father’s contribution to the infant’s developmentduring the pre-oedipal years (A dissertation). Master of Health Science in Psychotherapy: Auckland University of Technology.

 

Usmarni, L. (2013). Perbedaan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak pada etnis minang ditinjau dari tingkat pendapatan (Skripsi todak diterbitkan). Universitas Negeri Padang. Bukittinggi.

 

Winarsunu, T. (2002). Statistika dalam penelitian psikologi dan pendidikan.   Malang: UMM-Press

 

Yee, N. (2006). The demographics motivation and derived experiences of users of massively-multiuser online graphical environment. Presence:  Teleoperator  and virtual environment, 15, 309-329.


 

KETETAPAN untuk TABEL dan GAMBAR:

  1. Jika dalam artikel terdapat tabel, meskipun hanya satu, maka setiap tabel diberi nomor, diikuti nama tabel dan dituliskan diatas tabel yang dicantumkan.
  2. Tidak diperkenankan mencantumkan tabel yang hanya terdiri dari 2 baris.
  3. Sedangkan nama untuk gambar, dituliskan dibawah gambar.

 [C1]Judul artikel ditulis dengan huruf KAPITAL dan di BOLD, font Times New Roman 14, spasi tunggal (1,0). Panjang judul artikel dalam bahasa Indonesia maksimal 12 kata, dan dalam bahasa Inggris maksimal 10 kata. Berbentuk piramida tebalik.

 [C2]Artikel ditulis pada ukuran kertas (page layout) A4 dengan margin normal (kiri, kanan, atas, bawah masing-masing 2.54 cm).

 [C3]

Nama penulis ditulis tanpa gelar akademik dengan font Times New Roman 10, di BOLD, spasi tunggal (1,0) dengan urutan :

Penulis 1, Penulis 2, Penulis 3

 

 [C4]nama institusi asal penulis dan korespondensi berupa alamat  e-mail penulis utama ditulis dengan font Times New Roman 10 dan spasi tunggal (1,0)

 [C5]

Abstrak ditulis dalam 2 bahasa (Inggris dan Indonesia), dengan kolom tunggal; spasi 1,5; font Times New Roman 11. Abstrak bahasa Inggris ditulis dengan huruf miring (italic). Abstrak merupakan ringkasan isi artikel yang biasanya berisi tujuan penelitian, meotode yang digunakan, populasi dan sampel, teknik analisis data, hasil dan kesimpulan.

Panjang abstrak bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing adalah 75-100 kata.

 

 [C6]

Abstrak ditulis beriringan dengan judul (huruf kapital hanya di awal kalimat), dimana abstrak dan judul di Bold. Dilanjutkan isi abstrak dengan format tulisan yang sama tanpa ditebalkan. Beri 1 kali enter untuk memisahkan abstrak dengan keyword

 [C7]

Abstrak diikuti dengan kata kunci yang terdiri dari 3-5 kata atau istilah yang sering disebutkan di dalam artikel.

Gunakan istilah “Keyword” untuk abstrak berbahasa Inggris dan “Kata kunci” untuk abstrak berbahasa Indonesia.

spasi 1,5; font Times New Roman 11.

 

 [C8]Sama dengan abstrak bahasa inggris

 [C9]Setekah abstrak bahasa indonesia dilanjukan dengan isi artikel

Isi artikel ditulis dengan format 2 kolom, Jarak antara kiri-kanan 7 mm; font Times New Roman 12; spasi 1,5; total keseluruhan artikel + daftar rujukan adalah maksimal 12 halaman dan minimal 10 halaman.

 [C10]PENDAHULUAN (15-20% dari keseluruhan artikel) biasanya berisi:

Latar belakang: fenomena, teori (definisi, aspek, faktor yg mempengaruhi) menurut para ahli tentang variabel bebas dan terikat., dan paragraf terkahir berupa kesimpulan dari latar belakang yang ada mengapa peneliti tertarik meneliti hal tersebut,

 [C11]10-15% dari keseluruhan artikel

 [C12]Metode biasanya berisi: jenis, populasi dan sampel (subjek), alat akur (teknik pengumpulan data), analisis data

 [C13]40-60% dari keseluruhan artikel

 [C14]Hasil penelitian, berupa angka-angka jika penelitian kuantitatif.

Perhatikan kesinkronan hasil dan pembahasan. Angka di hasil harus dijelaskan di pembahasan

 [C15]Tidak ada angka di pembahasan. Biasanya dibahas dengan teori-teori terkait.

 [C16]Kesimpulan isi artikel dan saran-saran misalnya bagi subjek penelitian, bagi peneliti selanjutnya

 [C17]Daftar rujukan ditulis sesuai dengan aturan APA sixth edition. Ditulis dengan format 2 kolom, Jarak antara kiri-kanan 7 mm; spasi tunggal; font Times New Roman 12; dan antar sumber rujukan diberi enter.

Perhatikan kesinkronan antara daftar rujukan dengan kutipan di isi artikel. Daftar rujukan hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk, dan semua sumber yang dirujuk/di kutipan pada isi artikel harus tercantum dalam daftar rujukan. Begitu juga dengan daftar rujukan tercantum harus ada di kutipan isi artikel.

 

Submission Preparation Checklist

As part of the submission process, authors are required to check off their submission's compliance with all of the following items, and submissions may be returned to authors that do not adhere to these guidelines.

  1. Artikel Penulis sudah sesuai dengan aturan penulisan Jurnal RAP
  2. artikel sudah ditulis dengan mengacu pada APA Publication Manual Sixt Edition
  3. Artikel tidak pernah diterbitkan di jurnal lain
  4. The text is single-spaced; uses a 12-point font; employs italics, rather than underlining (except with URL addresses); and all illustrations, figures, and tables are placed within the text at the appropriate points, rather than at the end.
  5. The text adheres to the stylistic and bibliographic requirements outlined in the Author Guidelines, which is found in About the Journal.
  6. If submitting to a peer-reviewed section of the journal, the instructions in Ensuring a Blind Review have been followed.
 

Copyright Notice

Creative Commons License
Jurnal Riset Psikologi is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

 

Privacy Statement

The names and email addresses entered in this journal site will be used exclusively for the stated purposes of this journal and will not be made available for any other purpose or to any other party.